Saturday, 30 March 2019

AKU, ADALAH?


Hi, semuanya. Nama gue endah, dan gue mau berbagi cerita hidup gue yang menurut gue ini perlu gue bagikan. Ceritanya mengenai gue bergaul, berkomunikasi, dan berpendidikan. Singkat cerita gue adalah salah satu mahasiswa semester mau ke akhir, ya semester tanggung gitu deh. Hehehe
Pertama kita bahas soal pendidikan gue disekolah. Bisa dibilang gue adalah orang yang beruntung. Kenapa bisa dibilang beruntung, karena gue dari duduk disekolah dasar sampai sekarang di universitas beruntung dalam hal akademik, ya Cuma sekarang gue agak mengubah image gue itu yang menurut gue menggangu bagi hidup gue, yaitu ORANG PINTAR!.
Maaf bukan sombong atau pamer tapi kenyataannya seperti itu, pas disekolah dasar dari kelas satu sampai enam gue adalah orang terpintar dikelas, yaitu mendapat peringkat satu dalam hal akademik. Dan di sekolah menengah pertama gue juga beruntung, yaitu mendapat peringkat yang turun naik tapi di empat besar. Di sekolah menengah kejuruan, gue juga jadi siswa terbaik saat itu, karena pintar dalam hal akademik dan juga aktif di organisasi. Di SMK gue adalah orang yang mendapat peringkat satu selalu saat pembagian hasil dari semester ganjil ataupun genap.
Oh iya, gak cuma dalam bidang akademik tetapi gue juga aktif di organisasi yang gue suka. Gak Cuma dari SMP gue aktif, tapi saat sd pun gue aktif menerima bantuan dari guru untuk mengurus teman – teman saat itu, dan gue rasa keputusan teman – teman adalah keputusan gue. Berawal dari SD, gue menjadi orang yang sangat aktif dalam non akademik, akhirnya keterusan sampai ke SMP. Di sana gue masuk dan mendaftarkan diri ke OSIS!. Bukan hal yang menarik bagi gue saat itu, tapi y ague pengen aja disitu gue bisa aktif. Diluar dari osis gue adalah seorang komandan paskibra di SMP itu juga, dan merupakan seorang ketua paskibra di sekolah itu. Di OSIS gue menjabat sebagai wakil ketua osis, dan itu pas gue kelas 2.
Lalu, di SMK yang menurut gue paling sibuk. Mendaftarkan diri sebagai pengurus OSIS kembali, dan juga kembali menjadi wakil ketua disaat gue kelas 1 SMK. Namun, waktu itu ketua gue mengundurkan diri menjadi ketua osis, akhirnya gue yang menggantikan sebagai PLT (Pelaksana Tugas). Gak berenti sampai disitu, kelas 2 gue kembali menjabat menjadi KETUA OSIS, yang pada saat itu tidak ada PEMILIHAN KETUA OSIS seperti yang dilakukan ditahun sebelumnya. “Gak boleh ada yang maju jadi calon ketua osis, dan gak ada yang berani jadi ketua osis ngelawan kamu” itu adalah kata – kata yang sampai sekarang gue inget. Di SMK juga gue ngurusin ekskul, gue merupakan founder basket, futsal perempuan. Tapi nihil ketika gue udah kelas 3 semuanya pasif, dan akhirnya gue ga dianggap sebagai founder disitu.
Melihat dari cerita diatas mungkin orang akan anggep gue sebagai orang yang sangat kaku, tapi jujur gue gak seperti itu. Emang si, gue kaku tapi gue selalu nyoba untuk tetap santai sama orang kok, dan gak jaim apalagi malu saat ketemu orang. Dari latar belakang organisasi gue disekolah, disitu muncul kpribadian gue yang sangat menguntungkan. HUMBLE, PERCAYA DIRI, PUBLIC SPEAKING BAGUS, MUDAH BERGAUL, DAN DIPERCAYA. Sikap itu gue percaya didapat ketika gue mengikuti organisasi yang selama ini gue jalanin. Sangat menguntungkan, sangat membuat nyaman, dan bahkan bisa dipercaya oleh orang lain adalah hal yang langka bagi gue, apalagi sesuatu yang sangat penting. Oh iya, satu lagi. Gue juga dianggap BISA oleh orang lain, teman, bahkan lingkungan sekitar rumah gue karena aktivitas yang udah gue lakuin itu.
Tapi, semua itu ada resikonya lho. Pertama, gue dicap sebagai orang pinter yang menurut gue itu sangat mengganggu, dan gue juga gak mau dianggap sebagai orang pinter. Karena bagi gue kepintaran adalah usaha. Sampai dimana ada temen gue yang bilang “Alah, otak lu mah beda kan” itu ketika lagi ngomongin pelajaran yang gue anggap itu mudah tapi gak gue omongin Cuma dihati aja, eh dia malah bilang gitu pas gue ngomong “masa sih kok gak bisa, dimana yang sulit?”. Seketika gue takut menjadi orang yang sombong saat itu. Atau bahkan ada temen yang bilang gini “sekarang bilangnya gak belajar, taunya kelar duluan” itu adalah kata – kata yang sering gue denger pas lagi ujian.  Padahal kan balik lagi ke yang gue bilang “Pintar itu adalah USAHA”.
Gak berhenti sampai situ. Selain dianggap sebagai orang pintar dan ketika nilai lu jelek itu dianggap sebuah kemustahilan adalagi yang sampai sekarang gue inget yaitu, “udahlah gausah perhatiin gurunya, lagian yang diajak ngomong cuma rombongannya endah” kata – kata itu emang gak kasar sih, Cuma entah kenapa gue selalu inget dan trauma dengan kata – kata itu.
Hm. Capek banget denger semua omongan itu. Capek banget liat mereka seolah – olah mandang gue sebagai orang yang pintar, bahkan ada yang bilang gue “TERLALU AMBIS” dalam mengejar nilai, padahal balik lagi PINTAR ITU USAHA.
Gak Cuma masalah pendidikan yang gue sesalin di hidup gue ini, organisasi juga bikin gue nyesel kalo gue inget. Tapi gue berterimakasih kepada ORGANISASI yang pernah gue jalanin, apapun itu. Nyeselnya adalah WAKTU. Gue gapunya waktu dengan dunia emas gue yang katanya harus dijalanin itu. Gak ada yang namanya seneng – seneng disekolah. Gue hanya mengurusi masalah organisasi bahkan kadang gue juga ngurusin structural sekolah, yang menurut gue itu gak seharusnya gue kerjain. Selain gapunya waktu untuk senang – senang “DEWASA SEBELUM WAKTUNYA” itu juga selalu terngiang dalam benak gue, nyesel si engga, Cuma kadang gue mikir, ngapain gue harus capek – capek berusaha untuk dewasa dalam hal berpikir kalau ujungnya gue gapunya cerita disekolah.
Ketika gue pertama masuk kuliah, banyak orang yang selalu bercerita tentang sekolahnya. Hobi, bolos, bandel, main, senang – senang selalu itu yang gue denger. Dan bahkan ketika gue cerita soal sekolah gue, dibilang kalau gue “sibuk”. Bagi gue itu ganggu.
Sepele si emang permasalah gue, sampai gue pikir gue ini gapunya kenangan disekolah, dari SD sampai SMK gue gapunya kenangan. Hanya sibuk mengejar nilai, organisasi. Udah itu aja, gak ada yang lain yang gue kejar, bahkan gue dapat temen juga ya Cuma dari organisasi aja. Sedih ya.
Mungkin itu aja yang bisa gue bagiin sekarang, karena gue udah mentok banget. Hehehehe
Sampai jumpa ditulisan gaje berikutnya……..

Thursday, 28 March 2019

Yogyakarta, Istimewa!


Istimewa, kata yang tepat untuk menggambarkan kota Yogyakarta, tidak ada yang tidak tahu dengan kota yang dijuluki kota pelajar ini. Banyak yang dapat kita temukan dikota ini. Selain kota pelajar, yogyakarta juga disebut – sebut sebagai kota wisata yang penuh dengan kenangan. Banyak yang bisa kita kunjungi, mulai dari wisata di pantai, gunung, budaya, bahkan kuliner. Tidak ada yang bosan pergi ke Yogyakarta. Namun, saya tidak akan berbagi informasi mengenai perjalanan wisata saya melainkan pengalaman saya mengelola uang pada saat saya berada disana.
Pada februari 2018 tepatnya tanggal 20 saya bersama dengan rekan saya berkunjung ke yogyakarta. Kami menempuh perjalanan melalui udara yaitu pesawat. Disini saya ingin berbagi pengalaman bahwa liburan kesuatu tempat tidak harus mahal dan mewah. Contohnya yang saya lakukan, tiket pesawat dan tempat menginap kami dapat dari sebuah aplikasi yang sedang melakukan promo paket perjalanan wisata ke beberapa tempat. Menurut kami, itu adalah sebuah peluang besar karena bisa liburan dengan fasilitas yang lumayan tetapi harga sangat terjangkau. Kami melakukan perjalanan ke Yogyakarta selama tujuh hari enam malam dengan menggunakan pesawat sebagai alat transportasinya. Dari fasilitas yang kami dapatkan, meskipun pesawat dengan kelas ekonomi dan juga hotel bintang tiga, semua itu sudah lebih dari cukup karena harga yang sangat terjangkau yaitu sebesar 1jt rupiah. Harga yang tergolong sangat murah dengan lamanya kami menginap dihotel dan pesawat.
Tidak hanya itu saja, setelah kami sampai di yogyakarta, kami benar benar melakukan semuanya dengan menggunakan fasilitas yang berada di kota tersebut. Seperti Trans Jogja misalnya, kami melakukan aktivitas kami untuk berkeliling Yogyakarta menggunakan fasilitas tersebut, karena harga yang terjangkau juga kami ingin mencoba menggunakan fasilitas kota tersebut, agar bisa membedakan dengan fasilitas kota yang ada didaerah kami. Trans Jogja dikenakan tarif Rp. 3.500 dari jalan sudirman sampai ke malioboro.
Selain transportasi publik, kami juga mencoba makanan yang ada dijogja, seperti soto kudus dengan porsi yang lumayan banyak, dan harga yang sangat terjangkau yaitu Rp. 8000 untuk satu porsi. Harga yang sangat jauh berbeda dengan harga didaerah jabodetabek. Tidak hanya makanan, kami juga berbelanja pakaian seperti daster, kaos, dan celana bahan. Harganya pun tidak jauh ekonomis, sekitar Rp. 25.000 sampai Rp. 50.000. Namun, ketika kita mencoba untuk pergi kesalah satu mall yang ada dijogja, harga yang ditawarkan sama dengan harga didaerah jabodetabek.
Harga yang tadi saya jelaskan itu sangat menguntungkan bagi saya dan juga rekan saya, karena liburan saya bukan liburan backpacker. Mendapatkan fasilitas sangat nyaman dengan harga yang sangat murah itu adalah sesuatu yang di idamkan banyak orang. Ketika tidak ingin repot dengan kamar yang sempit akibat tidak ingin mengeluarkan uang yang banyak, dan juga ketika kita harus berbagi ruangan kepada banyak orang, mencari promo merupakan solusi yang sangat tepat. Dan ketika disebuah daerah memiliki fasilitas kita sebagai tamu didaerah tersebut wajib mencoba dan memakai fasilitas tersebut.